Senin, 02 Mei 2016

Hari Pendidikan Nasional 02 Mei 2016

Hari Pendidikan Nasional  02 Mei 2016

Setiap tanggal 2 Mei Masyarakat Indonesia selalu memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas). Hal ini bertepatan dengan hari ulang tahun Sang Guru Kita, yaitu Ki Hadjar Dewantara. Beliau merupakan salah satu Pahlawan Nasional di Indonesia yang dikenal dengan sebutan Bapak Pendidikan Nasional. Semboyan Sang Guru yang sangat poluler di kalangan masyarakat adalah Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Semboyan ini memiliki arti bahwa setiap diri kita  harus memiliki ketiga sifat tersebut agar dapat menjadi insan yang berkarakter. Untuk mengenang jasa beliau, maka Peringatan Hari Pendidikan Nasional pada setiap tanggal 2 Mei tidak bisa dipisahkan dari sosok seorang Ki Hadjar Dewantara, tokoh yang berjasa memajukan pendidikan di Indonesia.
Ada lima point penting yang dapat Penulis temukan dari Sosok Ki Hajar Dewantara untuk menjadi guru profesional yang ideal, berikut lima point penting tersebut:
1.       Ki Hajar Dewantara Berani Melakukan Perubahan
Ki Hadjar Dewantara dilahirkan pada tanggal 2 Mei 1889 di Yogyakarta dengan nama Raden Mas Suwardi Suryaningrat. Ayahnya seorang pangeran yang bernama Pangeran Suryaningrat yang merupakan putra Paku Alam ke-4 dari Yogyakarta. Beliau menamatkan pendidikan dasar di ELS (Sekolah Dasar Eropa/Belanda). Kemudian ia bekerja sebagai penulis dan wartawan di beberapa surat kabar, antara lain, Sediotomo, Midden Java, De Expres, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaj Timoer, dan Poesara. Pada masanya, ia tergolong penulis handal. Tulisan-tulisannya komunikatif dan tajam dengan semangat antikolonial.
Soewardi muda sangat ulet sebagai seorang wartawan muda, beliaunya juga aktif dalam organisasi sosial dan politik. Sejak berdirinya Boedi Oetomo (BO) tahun 1908, beliaunya aktif di seksi propaganda untuk menyosialisasikan dan menggugah kesadaran masyarakat Indonesia (terutama Jawa) pada waktu itu mengenai pentingnya persatuan dan kesatuan dalam berbangsa dan bernegara. Kongres pertama BO di Yogyakarta juga diorganisasi olehnya. beliaunya juga menjadi anggota organisasi Insulinde, suatu organisasi multietnik yang didominasi kaum Indo yang memperjuangkan pemerintahan sendiri di Hindia Belanda, atas pengaruh Ernest Douwes Dekker (DD). Ketika kemudian DD mendirikan Indische Partij, Soewardi diajaknya pula.
Selama di Belanda Soewardi muda memanfaatkan kesempatan ini untuk mendalami masalah pendidikan dan pengajaran. Setelah Soewardi muda kembali ke Indonesia pada bulan September 1919. Segera kemudian ia bergabung dalam sekolah binaan saudaranya. Pengalaman mengajar ini kemudian digunakannya untuk mengembangkan konsep mengajar bagi sekolah yang ia dirikan pada tanggal 3 Juli 1922: Nationaal Onderwijs Instituut Tamansiswa atau Perguruan Nasional Tamansiswa. Saat ia genap berusia 40 tahun menurut hitungan penanggalan jawa, ia mengganti namanya menjadi Ki Hadjar Dewantara. Ia tidak lagi menggunakan gelar kebangsawanan di depan namanya. Hal ini dimaksudkan supaya ia dapat bebas dekat dengan rakyat, baik secara fisik maupun jiwa. Kemudian beliau memusatkan perjuangan melalui pendidikan dengan mendirikan perguruan Taman Siswa pada tanggal 3 JuIi 1922. Perguruan ini merupakan wadah untuk menanamkan rasa kebangsaaan kepada anak didik. Ajaran Ki Hajar Dewantara yang terkenal adalah ing ngarsa sung tulodo, ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani. Artinya adalah di depan memberi teladan, di tengah memberi semangat, dan di belakang memberi dorongan.
2.       Ki Hajar Dewantara Penggerak dan Pendidik
Beberapa tokoh pergerakan yang yang ada di Indonesia merupakan sosok insan yang konsisten, terpelajar, radikal, dan pandai bersiasat dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Akan tetapi, tidak banyak yang meninggalkan lembaga yang didirikan sejak zaman penjajahan Kolonial Belanda dan bertahan hingga sekarang serta nama dan waktu lahirnya diperingati oleh jutaan penduduk Indonesia kontemporer. Diantara tokoh penggerak masuk di dalamnya akan tetapi tidak ada jejak lembaga yang telah didirikan dan bertahan hingga sekarang. Hanya jejak lembaga pendidikan yang telah didirikan oleh Ki Hadjar Dewantara hingga saat ini bertahan.
Sejarah Indonesia telah mencatat bahwa Ki Hadjar Dewantara bukan saja merupakan salah satu perintis dunia pendidikan di Indonesia, melainkan juga salah satu perintis dunia jurnalistik Indonesia. Di masa mudanya, beliau menjadi aktivis organisasi Insulinde, Sjarekat Islam, Boedi Oetomo, Indische Partij, serta politisi dan pendiri Pergoeroean Nasional Tamansiswa. Ki Hadjar Dewantara kemudian dianugrahi Pahlawan Nasional, Bapak Pendidikan Indonesia, sekaligus mendapat gelar kehormatan yakni doktor honoriscausa dari Universitas Gadjah Mada. Berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI No. 305 Tahun 1959 Tanggal 28 November 1959, hari lahir beliau telah ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional. Semboyan beliau, tutwuri handayani, sampai saat ini menjadi slogan Kementrian Pendidikan Nasional dan tercantum dalam lambang pendidikan Indonesia.
Sedangkan mengenai sosok guru, Ki Hajar Dewantara telah mengisyaratkan posisinya itu dengan melalui petuah-petuah dalam bahasa sansekerta. Guru bukan sekedar mengajarkan keilmuan tertentu, tapi dia juga harus dapat menjadi instrument perekat nilai-nilai kebangsaan, nasionalisme, cinta tanah air, nilai religiusitas dan spritualitas. Selain itu juga guru harus menjadi tauladan bagi siswa, menjadi orang tua yang selalu membimbing anaknya, menjadi problem solver dalam setiap sumbatan pengetahuan dan wacana bagi orang-orang di sekitanya. Nilai esensial yang harus tertanam pada seorang guru sebagai sokoguru pendidikan di Indonesia adalah berfikir, berdzikir, beramal sholeh, serta mengabdi kepada masyarakat.
3.       Ki Hajar Dewantara Rendah Hati
Ki Hadjar Dewantara menerapkan pendidikan yang humanis yaitu memanusiakan manusia yang berbudaya dan berkembang secara kognitif (daya cipta), afektif (daya rasa), dan konatif ( daya karsa). Dengan kata lain prinsip pendidikan Ki Hadjar Dewantara adalah “to educate the head, theheart, and the hand”. Selain dari itu dalam ajaran Ki Hadjar Dewantara juga dikatakan bahwa guru hendaknya mempunyai ketauladan lebih dahulu, baru sebagai fasilitator dalam mengajar. Hal ini dapat kita mengerti dari arti nama Hajar Dewantara yang mempunyai arti guru yang mengajarkan kebaikan, keluhuran, dan keutamaan.
4.       Ki Hajar Dewantara Bijaksana
Semboyan Ki Hajar Dewantara yang sangat bengitu melekat di benak kita masing-masing adalah“Ing ngarsa sung tulodo, Ing madyo mangun karso, Tut wuri handayani”. Apabila hakikat dari semboyan ini benar-benar di implementasikan dengan baik dan benar oleh diri kita, maka akan memberikan dampak positif bagi diri kita sendiri dan generasi bangsa yang akan datang.
Ing ngarso Sung Tulodo, ketika di depan memberi teladan. Hakikat dari semboyan yang pertama ini mengajak kepada guru, bahwa guru harus mampu memberikan contoh yang baik dan benar bagi siswanya, baik sikap, perbuatan maupun pola pikirnya. Apalagi seorang guru dalam kurikulum 2013 juga dituntut untuk membentuk siswa yang salah satu kompetensi intinya dapat Menghargai dan menghayati perilaku jujur, disiplin, tanggungjawab, peduli (toleransi, gotong royong), santun, percaya diri, dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam jangkauan pergaulan dan keberadaannya. Oleh karena itu, apabila guru memberikan teladan yang baik dan benar, maka perilaku siswa akan menjadi baik juga, bahkan mereka bisa jadi lebih baik dari pada kita. Dengan kata lain, seorang guru merupakan public figure yang akan dijadikan panutan siswanya, maka guru harus memiliki akhlak yang luhur.
Ing Madyo Mangun Karso, ketika di tengah memberikan semangat. Hakikat dari semboyan yang kedua ini mengajak kepada para guru, bahwa para guru haruslah berada di antara siswanya, dengan kata lain guru juga sebagai teman bagi siswanya. Dengan demikian, para guru dengan leluasa membimbing dan memberikan inspirasi kepada anak didiknya.  Sehingga tercipta suasana belajar yang kondusif dan nyaman bagi mereka.
Tut Wuri Handayani, ketika di belakang memberikan daya kekuatan. Hakikat dari semboyan yang ketiga ini mengajak kepada para guru untuk selalu memberikan arahan yang baik dan benar dalam kemajuan belajar siswanya. Oleh karena itu para guru dapat memotivasi anak didiknya untuk lebih giat dalam belajar. Dengan demikian, mereka merasa selalu diperhatikan dan selalu mendapat pikiran-pikiran positif dari diri gurunya. Sehingga mereka selalu memandang ke depan dan tidak terpaku pada kondisinya saat ini.
Ketiga semboyan ini saling berkaitan antara satu dengan lainnya. Sebagai contoh, seorang guru memiliki tanggung jawab untuk menanamkan nilai-nilai pada siswanya. Dalam hal ini guru tidak hanya begitu saja mendorong dan mengarahkan siswanya untuk mengikuti nilai-nilai tersebut, tetapi guru juga harus memberikan contoh bagaimana nilai-nilai tersebut tertanam di dalam dirinya. Selain memberi contoh, guru juga harus mengarahkan nilai-nilai tersebut di tengah-tengah siswa dan memberi motivasi mereka untuk bertindak agar sesuai dengan nilai-nilai tersebut.
Ada satu semboyan lagi yang sangat melekat pada diri kita, yaitu Asih, Asah dan Asuh. Asih adalah mengasihi anak secara psikis agar terbentuk karakter atau jiwa yang saling menyayangi terhadap sesama. Asah adalah menajamkan intelektual atau pola pikir anak agar menjadi manusia yang cerdas dan pintar secara intelektual. Asuh adalah pemeliharaan anak secara fisik agar sehat dan kuat jasmaninya.
5.       Ki Hajar Dewantara Dapat Menjadikan Suasana Belajar Seperti Taman Bermain
Ki Hajar Dewantara dalam mendirikan Perguruan Taman Siswa mempunyai tujuan mulya yang ingin tercapai, yaitu untuk membentuk manusia yang merdeka, baik secara fisik, mental, maupun kerohanian. Sedangkan landasan filosofisnya adalah nasionalistik dan universalistik. Nasionalistik berdasarkan budaya nasional dan universalistik berdasarkan hukum  alam. Sedangkan suasana dalam pendidikan yang diajarkan dalam ajaran Ki Hadjar Dewantara adalah suasana  yang berprinsip pada kekeluargaan, kebaikan hati, empati, cinta kasih, dan penghargaan terhadap masing-masing anggotanya. Sedangkan metode yang terdapat dalam ajaran Ki hadjar Dewantara adalah metode among yaitu metode yang berdasarkan pada asah, asih, dan asuh (care, dedication, love).
Seorang guru yang hebat tentunya harus memiliki keunggulan tertentu, baik dalam mengajar maupun  hubungan dengan peserta didik, dan anggota komunitas sekolah serta pihak lain seperti dengan orang tua dan komite. Seorang guru juga harus mempunyai sikap profesionalitas yang tinggi yaitu keinginan untuk memperbaiki diri dan mengikuti perkembangan zaman sehingga penting bagi seorang guru untuk membangun etos kerja yang positif, menjunjung tinggi pekerjaan, menjaga diri dalam melaksanakan pekerjaan dan keinginan  untuk melayani masyarakat. Lebih jauh lagi, guru juga harus memperhatikan penampilannya baik secara fisik, intelektual, relasi sosial, kepribadian dan kerohanian sehingga dapat menjadi motivator bagi anak didiknya.
Sebagai anak bangsa kita wajib memberi penghormatan atas jasa-jasanya yang telah diberikan kepada bangsa ini. Bentuk penghormatan yang baik adalah meneladani semangat hidupnya dan mengemban visi dan misi beliau di bidang pendidikan. Karena melalui lembaga pendidikan inilah kita membangun masa depan bangsa yang dicita-citakan. Perubahan bangsa ini ke arah yang lebih baik bermula dari lembaga pendidikan. Sangat tepat apabila dikatakan bahwa lembaga pendidikan menjadi wadah untuk perubahan dan guru sebagai agen perubahan.
Kesimpulan
Berdasarkan kelima hasil temuan penulis diatas dapat disimpulkan. Bahwa untuk menjadi sosok guru profesional yang ideal ala Ki Hajar Dewantara, maka guru harus selalu melakukan perubahan diri kepada yang lebih baik, guru harus menempatkan diri sebagai among atau pembimbing, penasehat, pendidik, pengajar, pemberi motivasi, rendah hati, penuntun, tegas dan terhormat. Disamping itu juga guru harus ikhlas dalam mendidik siswa dan mampu menguasai kompetensi keguruannya yaitu pedagogik, profesional, sosial dan kepribadian.
Dengan memperingati Hardiknas, semoga negara Indonesia yang kita cintai ini menjadi bangsa yang besar dan dapat disegani di kancah dunia. Hal ini sesuai dengan rencana besar pemerintah untuk menyiapkan generasi emas pada tahun 2045 nanti yang dimulai dengan adanya Kurikulum 2013. Pemerintah pernah mengungkapkan bahwa tahun ini dianggap sebagai masa ‘menanam’ generasi emas tersebut. “Dari 2012-2035 Indonesia mendapat bonus demografi, dimana jumlah penduduk usia produktif paling tinggi di antara usia anak-anak dan orang tua”.

Apalagi rencana pemerintah ini pernah diungkapkan oleh Ki Hajar Dewantara “TANAH air kita meminta korban. Dari di sinilah kita, siap sedia memberi korban yang sesuci-sucinya… sungguh, korban dengan ragamu sendiri adalah korban yang paling ringan… memang awan tebal dan hitam menggantung di atas kita. Akan tetapi percayalah di baliknya masih ada matahari yang bersembunyi… kapan hujan turun dan udara menjadi bersih karenanya?”. Oleh karena itu, semoga dengan peringatan Hardiknas ini dapat membantu untuk mewujudkan cita-cita Bangsa dan Negara, terutama dalam dunia pendidikan, yaitu dapat menumbuhkembangkan siswa yang berakhlak mulia dan sebagai guru, kita dapat menjadi guru yang benar-benar akhlas mendidik para siswa kita. Amien Yarobbal Alamien…

Rabu, 16 Desember 2015

PENELITIAN KUANTITATIF


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang

Penelitian kuantitatif dan penelitian kualitatif adalah  jenis penelitian yang cukup sering digunakan. Penelitian kuantitatif merupakan penelitian di bidang ilmu-ilmu eksakta dengan aktivitas yang didasarkan pada disiplin  ilmiah dari masing-masing ilmu, juga menggunakan matateri perlakuan yang disusun dalam rancangan-rancangan yang sudah baku dengan tujuan untuk menemukan solusi dari suatu permasalahan.
Penelitian kualitatif adalah prosedur peneletian yang bertujuan meneliti suatu masalah dengan cara merumuskan permasalahan lalu meneliti dengan cara mendalam yaitu pengalaman, pencatatan, wawancara, dan terlibat dalam proses penelitian guna menemukan penjelasan berupa pola-pola, deskripsi, dan menyusun indikator.
Perbedaan kedua metode tersebut, tidak semata-mata yang satu menggunakan angka dan yang satu lagi tidak. Perbedaan kedua metode tersebut meliputi aksioma dasar, proses penelitian, dan karakteristik (ciri-ciri) penelitian itu sendiri. Dari segi proses, penelitian kuantitatif bersifat deduktif dan penelitian kualitatif bersifat induktif.
Namun dalam pembahasan makalah ini pemakalah tidak akan membahas ke-dua jenis penelitian tersebut, akan tetapi pemakalah akan mempersempit pembahasan hanya pada Penelitian Kuantitatif sesuai judul pada makalah ini.
B.           Rumusan Masalah
1.                  Apa pengertian  peneletian kuantitatif ?
2.                  Bagaimana sejarah munculnya penelitian kuantitatif ?
3.                  Bagaimana konsep dasar penelitian kuantitatif?
4.                  Bagaimana karakteristik penelitian kuantitatif ?
5.                  Bagaimana langkah-langkah penelitian kuantitatif ?
C.          Tujuan Masalah
1.                     Untuk mengetahui pengertian  penelitian kuantitatif.
2.                     Untuk mengetahui sejarah munculnya penelitian kuantitatif.
3.                     Untuk mengetahui konsep dasar penelitian kuantitatif.
4.                     Untuk mengetahui karakteristik penelitian kuantitatif.
5.                     Untuk mengetahui langkah-langkah penelitian kuantitatif.


                                                                        BAB II                                                                       
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Kuantitatif.
Secara umum, suatu penelitian dilakukan dalam rangka memperoleh data yang dapat digunakan untuk memahami, memecahkan dan mengantisipasi masalah. Menurut John W Creswell dalam Hamid Patilima, penelitian kualitatif adalah sebagai sebuah proses penyelidikan untuk memahami masalah sosial atau masalah manusia berdasarkan pada penciptaan gambar holistik yang dibentuk kata-kata, melaporkan pandangan informan secara terperinci dan disusun dalam sebuah latar ilmiah[1] Sedangkan menurut Tim UM sebagaimana dikutip oleh Ahmad Tanzeh, penelitian kualitatif adalah penelitian yang dimaksudkan untuk mengungkapkan gejala secara holistik kontekstual (secara menyeluruh dan sesuai dengan konteks/apa adanya) melalui pengumpulan data dari latar alami sebagai sumber langsung dengan instrumen kunci penelitian itu sendiri[2]
Penelitian kuantitatif adalah penelitian di bidang ilmu-ilmu eksakta dengan aktivitas yang didasarkan pada disiplin ilmiah dari masing-masing ilmu, juga menggunakan materi perlakuan yang susun dalam rancangan-rancangan yang sudah baku dengan tujuan untuk menemukan solusi dari suatu permasalahan. Penelitian yang masuk kedalam penelitian kuantitatif adalah penelitian-penelitian ekperimental untuk menguji hipotesis yang dikemukakan[3]
Definisi tersebut, memberi pemahaman bahwa pendekatan atau metode kuantitatif lazim digunakan dalam disiplin ilmu-ilmu sains dan eksakta, namun metode kuantitatif juga banyak digunakan dalam penelitian pendidikan.
3
Dalam penelitian kuantitaif pada ilmu sosial atau pendidikan, tugas peneliti adalah menguji adalah menguji suatu teori-teori pendidikan dengan cara membuat hipotesa-hipotesa, membuat instrumen membuat hipotesis, dan menguji hipotesisnya.
Metode penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif atau statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan[4]

B.     Sejarah Munculnya Penelitian Kuantitatif.
Penelitian kuantitatif dimulai pada akhir abad 19 dan penelitian pendidikan mendominasi untuk sebagian besar abad ke-20. Ide-ide awal untuk penelitian kuantitatif berasal dari ilmu fisika, seperti fisika dan kimia. sama seperti atom dan molekul yang tunduk pada las dan aksioma yang telah diprediksi. Begitu juga, seperti pola akhlak (sikap dan tingkah laku) anak-anak di sekolah. Penelitian awal kuantitatif mulai mengidentifikasi pola-pola pendidikan dengan menilai atau mengukur kemampuan individu. Mengumpulkan skor (angka) dari individu, dan menggunakan prosedur percobaan psikologis dan survey berskala besar.
Dalam sejarah perkembangan penelitian kuantitatif, tiga tren historis yang hadir adalah prosedur statistik, praktek/tes dan pengukuran, dan design penelitian.[5] Namun dalam dalam makalah ini tidak akan membahas lebih jauh tentang  ke-tiga tren tersebut diatas.

C.     Konsep dasar Penelitian Kuantitatif.
Metode kuantitatif berakar pada paradigma tradisional, positivistik, eksperimental atau empiricist. Metode ini berkembang dari tradisi pemikiran empiris Comte, Mill, Durkeim, Newton dan John Locke. “Gaya” penelitian kuantitatif biasanya mengukur fakta objektif melalui konsep yang diturunkan pada variabel-variabel dan dijabarkan pada indikator-indikator dengan memperhatikan aspek reliabilitas.
Penelitian kuantitatif bersifat bebas nilai dan konteks, mempunyai banyak “kasus” dan subjek yang diteliti, sehingga dapat ditampilkan dalam bentuk data statistik yang berarti. Hal penting untuk dicatat di sini adalah, peneliti “terpisah” dari subjek yang ditelitinya.
Pada hakikatnya setiap penelitian kuantitatif dalam ilmu-ilmu sosial menerapkan filosofi yang disebut deducto hipothetico verifikatif artinya, masalah penelitian dipecahkan dengan bantuan cara berpikir deduktif melalui pengajuan hipotesis yang dideduksi dari teori-teori yang bersifat universal dan umum, sehingga kesimpulan dalam bentuk hipotesis inilah yang akan diverifikasi secara empiris melalui cara berpikir induktif dengan bantuan statistika inferensial. Pengamatan kuantitatif melibatkan pengukuran tingkatan suatu ciri tertentu. Untuk menemukan sesuatu dalam pengamatan, pengamat harus mengetahui apa yang menjadi ciri sesuatu itu. Untuk itu pengamat mulai mencatat atau menghitung dari satu, dua, tiga dan seterusnya.
Berdasarkan pertimbangan dangkal demikian, kemudian peneliti menyatakan bahwa penelitian kuantitatif mencakup setiap penelitian yang didasarkan atas perhitungan persentase, rata-rata dan perhitungan statistik lainnya. Dengan kata lain, penelitian kuantitatif melibatkan diri pada perhitungan atau angka atau kuantitas. Hasil analisis kuantitatif cenderung membuktikan maupun memperkuat teori-teori yang sudah ada.

D.    Karakteristik Penelitian Kuantitatif.
Adapun karateristik penelitian kuantitatif adalah:[6]
1.        Instrumen Pengumpulan Data.
Pada penelitian ini instrumen data berupa tes tertulis, kuesioner,dan kolom-kolom pengamatan yag dibantu dengan alat tulis. Peneliti dapat menugaskan sejumlah enumerator (petugas pengumpul data). Karena data yang akan dikumpulkan serta isntrumen yang digunakan sudah baku. Insturmen penelitiannya telah disiapkan sebelumnya, sehingga tidak mungkin untuk melakukan perubahan.


2.       Data Dapat Diobservasi Dan Diukur
Dalam penelitian kuantitatif, analisis datanya menggunakan proses matematik yang disebut prosedur statistik, seperti menyediakan informasi untuk menjawab pertanyaan atau hipotesis penelitian.
3.       Rancangan Penelitian atau Desain
Dipakai untuk menuju pada rencana penelitian tentang bagaimana ia akan melaksanakan penelitian. Dalam hal ini termasuk di dalamnya langkah-langkah /prosedur,  yang terdiri dari :pengumpulan data menganalisis dan melaporkan hasil penelitian.
4.       Jumlah Subjek Banyak
Semakin banyak subjek (anggota sampel) yang diteliti semakin kuat keabsahan jeneralisasi
Sedangkan Sugiono menyebutkan karakteristik penelitian kuantitatif sebagai berikut:[7]
    1.  Desain
      a.   Spesifik, jelas rinci.
      b.   Ditentukan secara mantap sejak awal.
      c.   Menjadi pegangan langkah demi langkah.
  2. Tujuan
      a.   Menunjukkan hubungan antara variabel.
      b.   Menguji teori.
      c.   Mencari generalisasi yang mempunyai nilai prediktif.
  3. Teknik pengumpulan data
      a.   Kuesioner.
      b.   Observasi dan wawancara terstruktur.
  4. Instrumen penelitian
      a.   Test, angket, wawancara terstruktur.
      b.   Instrument yang telah terstandar.
  5. Data
      a.   Kuantitatif
      b.   Hasil pengukuran variabel yang dioperasionalkan dengan menggunakan
                   instrument.
  6. Sampel
      a.   Besar.
      b.   Representative.
      c.   Sedapat mungkin radom.
      d.   Ditentukan sejak awal.
  7. Analisis
      a.   Setelah selesai pengumpulan data.
      b.   Deduktif.
      c.   Menggunakan statistic untuk menguji hipotesis.
8. Hubungan dengan responden
      a.   Dibuat berjarak.
      b.   Kedudukan peneliti lebih tinggi dari pada responden.
      c.    Jangka pendek sampai hipotesis dapat dibuktikan.


Sedangkan Perbedaan yang terdapat antara Penelitian kuantitatif  dan kualitatif dapat di lihat pada tabel berikut:[8]

NO
Metode Kuantitatif
Metode Kualitatif
1.
A. Desain
1. Spesisifk, jelas, rinci
2. Ditentukan secara mantap sejak awal
3. Menjadi pegangan langkah demi langkah
A. Desain
1. Umum
2. Fleksibel
3. Berkembang dan muncul dalam proses penelitian
2.
B. Tujuan
1. Menunukkan hubungan antar variabel
2. Menguji teori
3. Mencari generalisasi yang mempunyai nilai prediktif
B. Tujuan
1. Menemukan pola hubungan yang bersifat interaktif
2. Menemukan teori
3. Menggambarkan relitas yang komplek
4. Memperoleh pemahaman makna
3.
C. Teknik Pengumpulan Data
1. Kuisioner
2. Observasi dan wawancara terstruktur
C. Teknik Pengumpulan Data
1. Participant observation
2. In depth interview
3. Dokumentasi
4. Tringulasi
4.
D. Instrumen Penelitian
1. Tes, angket, wawancara terstruktur
2. Instrumen yang telah terstandar
D. Instrumen Penelitian
1. Peneliti sebagai instrumen
2. Buku catatan, tape recorder, kamera dll
5.
E. Data
1. Kuantitatif
2. Hasil pengukuran variabel yang dioperasionalkan dengan menggunakan instrumen
E. Data
1. Deskristif kualitatif
2. Dokumen pribadi, catatan lapangan, ucapan dan tindakan responden, dll
6.
F. Sampel
1. Besar
2. Representatif
3. Sedapat mungkin random
4. Ditentukan sejak awal
F. Sampel
1. Kecil
2. Tidak representatif
3. Purposive, snoeball
4. Berkembang selama proses penelitian
7.
G. Analisis
1. Setelah selesai pengumpulan data
2. Deduktif
3. Menggunakan statistic untuk menguji hipotesis
G. Analisis
1. Terus menerus sejak awal sampai akhir penelitian
2. Induktif
3. Mencari pola, model, tema, teori
8.
H. Hubungan dengan Responden
1. Dibuat berjarak
2. Kedudukan peneliti lebih tinggi daripada responden
3. Jangka pendek sampai hipotesis dapat dibuktikan
H. Hubungan dengan Responden
1. Empati, akrab
2. Kedudukan sama
3. Jangka lama sampai ditemukan hipotesis/ teori
9.
I. Usulan Desain
1. Luas dan rinci
2. Literatur yang berhubungan dengan variabel yang diteliti
3. Prosedur spesifik
4. Masalah dirumuskan dengan spesifik dan jelas
5. Hipotesis dirumuskan dengan elas
6. Ditulis secara rinci dan jelas sebelum terjun ke lapangan
I. Usulan Desain
1. Singkat
2. Literatur yang digunakan bersifat sementara, tidak menjadi pegangan utama
3. Prosedur bersifat umum masalah bersifat sementara dan akan ditemukan setelah studi pendahuluan
4. Tidak dirumuskan hipotesis
5. Fokus penelitian ditetapkan setelah diperoleh data awal dari lapangan
10.
J. Kapan Penelitian Dianggap Selesai?
Setelah semua kegiatan yang direncanakan dapat diselesaikan
J. Kapan Penelitian Dianggap Selesai?
Setelah tidak ada data yang dianggap baru
11.
K. Kepercayaan Terhadap Hasil Penelitian
Pengujian validitas dan realiabilitas instrumen
K. Kepercayaan Terhadap Hasil Penelitian
Pengujian kredibilitas, depenabilitas, proses dan hasil penelitian


E.      Langkah-Langkah Penelitian Kuantitatif.
Metode penelitian kuantitatif adalah definisi, pengukuran data kuantitatif dan statistic objek melalui perhitungan ilmiah yang berasal dari sampel orang-orang atau penduduk yang diminta menjawab atas sejumlah pertanyaan tentang survey untuk menentukan frekuensi dan presentase tanggapan mereka.
 Contoh: dari 240 orang, 79% dari populasi sampel, mengatakan bahwa mereka lebih percaya pada diri mereka pribadi masa depan mereka dari setahun yang lalu hingga hari ini.
   Langkah-langkah penelitian kuantitatif adalah sebagai berikut:[9]
1)    Tahap Konseptual (Merumuskan dan membatasi masalah, meninjau kepustakaan yang relevan,mendefinisikan kerangka teoritis, merumuskan hipotesis).Tahap ini termasuk merenungkan, berpikir,  membaca, membuat konsep, revisi konsep, teoritisasi,  bertukar pendapat, konsul dengan pembimbing, dan penelusuran pustaka. Mengeksploitasi, perumusan, dan penentuan masalah yang akan diteliti. Penelitian kuantitatif dimulai dengan kegiatan menjajaki permasalahan yang akan menjadi pusat perhatian peneliti dan kemudian peneliti mendefinisikan serta menformulasikan masalah penelitian tersebut dengan jelas sehingga mudah dimengerti.
2)    Fase Perancangan dan Perencanaan (memilih rancangan penelitian, mengidentifikasi populasi yang diteliti, mengkhususkan metode untuk mengukur variabel penelitian, merancang rencana sampling, mengakhiri dan meninjau rencana penelitian, melaksanakan pilot penelitian dan membuat revisi). Mendesain model penelitian dan paramater penelitian. Setelah masalah penelitian diformulasikan maka peneliti mendesain rancangan penelitian, baik desain model maupun penentuan parameter penelitian, yang akan menuntun pelaksanaan penelitian mulai awal sampai akhir penelitian.
3)    Mendesain instrumen pengumulan data penelitian. Agar dapat melakukan pengumpulan data penelitian yag sesuai dengan tujuan penelitian, maka desain instrumen pengumpulan data menjadi alat perekam data yang sangat penting di lapangan.
4)    Fase Empirik (pengumpulan data, penyiapan data untuk analisis)
Mengumpulkan data penelitian dari lapangan.
5)    Fase Analitik (analisis data, penafsiran hasil)
Mengolah dan menganalisis data hasil penelitian. Data yang dikumpulkan dari lapangan diolah dan dianalisis untuk menemukan kesimpulan-kesimpulan, yang diantaranya kesimpulan dari hasil pengujian hipotesis penelitian.
6)    Fase Diseminasi
Mendesain laporan hasil penelitian. Pada tahap akhir, agar hasil penelitian dapat dibaca, dimengerti dan diketahui oleh masyarakat luas, maka hasil penelitian tersebut disusun dalam bentuk laporan hasil penelitian.















BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Penelitian kuantitatif merupakan penelitian di bidang ilmu-ilmu eksakta dengan aktivitas yang didasarkan pada disiplin ilmiah dari masing-masing ilmu
Metode penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, yang digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu dalam sebuah penelitian.
Metode yang sering digunakan dalam penelitian kualitatif ini adalah metode experimental, metode deskripsi,  metode survey, dan metode korelasi. Dalam penelitian kuantitatif menyajikan proposal yang bersifat lengkap, rinci, procedur  yang spesifik, literatur yang lengkap dan hipotesis yang dirumuskan dengan jelas.

B.     Saran
Demikianlah makalah ini penulis uraikan, di harapkan dengan adanya pembahasan makalah  ini, dapat membantu penyusunan makalah bagi para mahasiswa agar lebih memahami tentang  persamaan dan perbedaan penelitian kuantitatif dan kualitatif.
 Bagi pemerintah diharapkan dapat memberikan pasilitas dalam dunia pendidikan dan penelitian untuk lebih memajukan pendidikan dan penelitian di Indonesia.
Sementara bagi penulis sendiri, semoga dengan pembahasan makalah Penelitian Kuantitaif ini, setelah melalui presentasi dengan adanya saran dan kritik yang lebih membangun dapat menambah kopetensi penulis dalam penulisan  makalah selanjutnya.





KAJIAN PUSTAKA


Patilima, Hamid, Metode Penelitian Kualitatif, 2007,Bandung:Alfabeta.
Santoso, Mudji, jurnal penelitian kuantitatif.
Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan, 2012, Bandung: Alfabeta.
Tanzeh, Ahmad, Metodologi Penelitian Praktis2011, Yogyakarta: Teras.


[1] Hamid Patilima, Metode Penelitian Kualitatif, Bandung:Alfabeta,2007, hal.2-3.
[2] Ahmad Tanzeh, Metodologi Penelitian Praktis,  Yogyakarta: Teras,2011, hal.64.
[3] Mudji santoso dalam jurnal penelitian kuantitatif,12.
[4] Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan, 2012, Bandung: Alfabeta,14.
[5] https://bkpemula.wordpress.com/2011/12/04/sejarah-kuantitatif-dan-kualitatif/Tgl 31 Maret 2015 (lihat De Landsheere, 1998 dan Travers, 1992, untuk pembahasan lebih luas)

[7] Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan …,15.
[8] Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan …,16
[9] Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan …,18

Blogroll